WINDOWS LIVE (NEW)
“Microsoft meluncurkan Windows Live generasi terbaru untuk mengintegrasikan layanan online. Pada layanan terbaru ini, orang dapat memaksimalkan dan menata komunikasi internet mereka, baik dengan PC maupun Ponsel, dari satu situs web saja”, ujar Craig Law Smith, Marketing Director Microsoft Online Service Group, Southeast Asia, ketika meluncurkan layanan ini di Jakarta.
Windows Live terbaru, kata Craig, meningkatkan kemampuan photo sharing, e-mail, instant messaging, dan penggunaan internet lainnya sehingga interaksi sosial secara online menjadi lebih hidup. Perusahaan ini menyediakan perangkat lunak yang dapat di download secara gratis di http://www.yourworldonlive.com. Situs ini tersedia dalam 48 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.
Menurut Brata Rafly, Microsoft memang ingin penetrasi ke daerah-daerah dengan layanan Bahasa Indonesia pada produk barunya. “Windows Live ini ibarat satu paspor agar kita bisa membuka semua web dan situs jejaring social”, kata Barata, yang menjabat Country Manager Microsoft untuk Indonesia. Pengguna Windows Live yang terdaftar, ujarnya, mendapat Storage gratis sebanyak 25 Gigabytes untuk menyimpan teks, foto, gambar dan lainnya.
Untuk memudahkan jutaan pengguna Internet berinteraksi, Microsoft berkolaborasi dengan Flickr, Facebook, Friendster, LinkedIn Corp., Pandora Media Inc., Photobucket Inc., Twitter, WordPress dan Yelp Inc. Aktivitas dari web atau situs tersebut terintegrasi pada Windows Live melalui profil baru dan What’s New. Ketika pengguna Windows Live berbagi foto, memperbaharui profil, blog, dan menulis ulasan, aktivitas ini secara otomotis akan terpublikasi ke jaringan Windows Live.
Sejumlah layanan Windows Live sebenarnya telah dilakukan pesaingnya. Misalnya, yang ada dalam My Google dan My Yahoo. “Yang beda, Windows Live menggabungkan layanan-layanan dari pesaing Microsoft”, kata Nukman Luthfie, CEO Virtual Consulting, yang hadir dalam peluncuran Windows Live. Produk anyar Microsoft ini tampaknya cocok buat orang yang super sibuk.
PRESENTASI DENGAN PROYEKTOR DI UJUNG PONSEL
Bayangkan jika Anda membawa TV layar lebar di saku celana Anda. Tentu mustahil bukan ? Namun Logic Wireless meyakinkan kita bahwa hal itu mungkin, dengan perkakas yang disebut Logic Bolt. Logic Bolt ini merupakan ponsel yang memiliki kemampuan sebagai proyektor. Selain sebagai alat komunikasi, gadget ini dapat dioperasikan sebagai proyektor pada saat kita melakukan presentasi atau menonton video ataupun TV.
Logic Bolt dipamerkan pada ajang Consumer Electronics Show 2009 di Las Vegas. Logic Wireless yang bermarkas di Tucson, Arizona, Amerika Serikat, mengklaim bahwa ponsel proyektor buatannya merupakan pertama kali di dunia yang dipasarkan. Mereka menggandeng Anna Deng dan Miran Maric, perusahaan dari Shenzhen, China, untuk memproduksinya. Sebelumnya ponsel proyektor ini bernama Sheng Tai Cking.
Ponsel seharga US$ 600.- ini didukung jaringan GSM Quadband. Proyektornya dapat memantulkan gambar pada layar 30 inci guna melakukan presentasi sederhana atau video sharing. Dengan baterai tunggal, kita dapat menggunakan proyektor hingga 2 jam secara terus menerus.
Selama ini, ponsel lain yang telah ada hanya menyediakan informasi yang menakjubkan, akan tetapi tampilannya pada layar berukuran kecil. Logic Bolt generasi baru mampu memperbesar layar hingga 3000% atau lebih melalui proyektor yang ada di dalamnya. Informasi atau gambar yang cerah kemudian dipancarkan ke dinding atau layar. Jika dioperasikan, ponsel ini seperti proyektor pada umumnya yang banyak dilihat orang selama ini.
Logic Bolt kompatibel dengan operator GSM seperti T-Mobile dan AT&T. Ke depannya, perusahaan ini akan memperluas jaringan operator GSM-nya dan dapat dioperasikannya dengan CDMA. Sederet Feature dimiliki oleh ponsel ini, antara lain citra proyektor untuk layar 36 inci hingga 64 inci, Touch Screen, Bluetooth, GPS, Internet, aplikasi PowerPoint, Excell dan Word, serta dapat terhubung dengan Laptop, USB, TV, Xbox, dan Wi-Fi.
MATERIALISME & HEDONISME MELANDA KITA
Dalam Era globalisasi dewasa ini yang ditandai dengan semakin ketatnya persaingan di segala bidang, merupakan suatu realitas yang tak dapat dipungkiri dan tak mungkin dihindari oleh setiap orang yang hidup di zaman ini. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi, lebih-lebih media elektronik telah menawarkan suatu gagasan baru ke seluruh dunia tanpa memperhitungkan dampak-dampak negatif yang dapat ditimbulkannya terhadap norma agama dan akhlaq manusia. Promosi bertubi-tubi yang dilancarkan oleh berbagai media massa telah menawarkan kenikmatan hidup dengan gaya modern, konsumtif dan jet-set (mewah). Gaya hidup yang dituntut dan dikejar oleh hampir setiap orang sebagai pelaku kehidupan modern adalah kehidupan yang bebas tanpa batas, baik batas etika kesopanan, moral maupun akhlaq. Roda kehidupan yang dipacu dengan akselerasi tinggi hingga menjadi cepat panas, disamping juga ketatnya dunia kompetisi, khususnya di bidang ekonomi dan prinsip-prinsip pemenuhan kebutuhan serta keinginan manusia, telah memaksa manusia kini tidak lagi berperilaku dan bertindak manusiawi tetapi dengan semau gue (seenaknya sendiri).
Bagi banyak orang, mencari rizki yang halalan toyyiban (halal dan baik) nyaris dianggap suatu pekerjaan yang sia-sia. Adanya peluang untuk korupsi, kolusi, manipulasi dan sejenisnya yang berseliweran di depan hidung, benar-benar membuat mata mereka menjadi “silau”. Rangsangan manipulasi dan kolusi itu menjadi “klop” manakala kita melihat keadaan ekonomi yang semakin sulit akhir-akhir ini. Susahnya mencari pekerjaan, harga barang-barang kebutuhan yang terus melambung serta gaya hidup yang semakin men-jetset hingga membuat kebanyakan manusia jadi lupa diri, tabrak sana tabrak sini tanpa memperdulikan norma agama, yang penting fulus (uang) bisa didapat dengan mudah walupun harus dengan cara yang kotor dan keji.
Keadaan seperti ini sesuai dengan apa yang telah disyairkan oleh seorang penyair muda di Zaman Jahiliyah dahulu yang bernama Thorofah bin Al-’Abdi : “‘Pabila anda tak dapat memuaskan keinginanku, biarlah aku memenuhinya dengan seenakku sendiri, orang akan memuaskan nafsunya selama hidup. Setelah mati nanti anda akan tahu bahwa kita semua haus !”. Manusia yang menyatakan dirinya “modern” pastilah menjadi pengikut aliran ini walaupun tidak dengan terang-terangan memproklamirkan dirinya, kecuali orang-orang yang diperliharakan Allah dari padanya.
Mengenai hal ini, Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Sesungguhnya bagi setiap ummat ada ujiannya, dan ujian bagi ummatku ialah harta kekayaan”. (H.R. Tarmizi)
“Demi Allah, bukanlah kekafiran dan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kamu, tetapi justru aku khawatir kemewahan dunia yang kamu dapatkan sebagaimana telah diberikan kepada orang-orang sebelum kamu, lalu kamu bergelimang dalam kemewahan itu sehingga binasa, sebagaimana mereka bergelimang dan binasa pula”. (H.R. Tarmizi)
Apabila diingatkan, baik dengan teguran-teguran religi yang tersirat maupun yang tersurat, sungguh yang keluar dari bibir mereka adalah kata-kata apologi (pembelaan) “Jangankan cari rejeki yang halal, yang haram saja susah !”, begitu sering dilontarkan. Hidup dinilai hanya untuk saat ini saja, mereka tidak lagi dilhami oleh kehidupan masa depan yang bersifat ukhrowi nan kekal dan abadi. Orang-orang itu hanya menghargai kekayaan dan kemewahan dengan segala yang berhubungan dengan kehinaan dan kerendahan moral. Mereka akan mencela orang yang tidak ikut berkecimpung dalam perebutan materi tersebut betapapun orang itu baik budi dan berwatak mulia.
Salah seorang penyair Arab di Zaman Jahiliyah pernah berkata : “DikutukTuhan seorang budak yang cita-cita dan tujuan hidupnya hanya untuk mencari sandang dan pangan saja”. Bagaimana kiranya (kita tak bisa membayangkan) sendainya penyair tersebut masih hidup sampai sekarang ini, dimana ia melihat terlalu banyaknya orang-orang yang berlomba dan berjibaku untuk tidak hanya memenuhi sekedar sandang pangan saja tetapi lebih memenuhi kebutuhan “kemewahan dunia” walaupun dengan cara yang menjijikan dan keji.
Adalah seorang sarjana yang bekerja pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), ia seorang yang pintar dan mempunyai talenta dalam dunia ilmu dan penelitian ilmiah serta telah banyak menulis di majalah-majalah ilmiah populer. Namun akhirnya ia pindah ke Departemen Penerangan dan bekerja sebagai penyiar. Ketika ditanyakan apa sebabnya ia mengubah haluan, maka dijawab : “Karena pekerjaan yang baru menjanjikan gaji yang lebih besar...”.
Ironisnya, seorang ustadz yang sangat dikagumi dan telah berhasil menyusun buku “Tasawuf Islam” sehingga memperoleh penghargaan dari Para ‘Alim ‘Ulama terkemuka. Tapi tiba-tiba ia pindah ke Departemen Luar Negeri dan menjadi interpreter (penerjemah) bahasa Arab demi mengejar tambahan gaji yang lebih besar.
Ini semua mengindikasikan bahwa materi berada di atas segala-galanya dan telah menjadi sesuatu yang menentukan tujuan hidup sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak secara total, bukan lagi sebagai sarana dan alat untuk mencapai tujuan hidup tersebut.
Bila kemaksiatan sudah menjadi suatu kebiasaan (bahkan sudah menjadi suatu kenikmatan), apalagi kalau bukan apologi (pembelaan) dan legitimasi (pembenaran) yang menjadi andalan. Sederet kata-kata yang menjijikan pun akan meluncur dengan deras dan fasih-nya dari bibir mereka yang secara otomatis menjadi pandai bertutur bak tukang obat kaki lima di pinggir jalan. “Saya ‘kan hanya menerima pemberian orang...Lagi pula saya tidak memaksa khok...! Yah..,saya kan cuma sedikit, lihat tuh babe-babe kita dapatnya lebih banyak”. Dan ketika diingatkan, itu salah dan haram dengan dalil : “Orang yang menyogok dan yang disogok, dua-duanya masuk Neraka”. Mereka menjawab lagi :”Tapi saya berbuat demikian ‘kan untuk menafkahkan anak-isteri ..., bukankah menafkahkan keluarga juga termasuk amal soleh ?”.
Naudzubillah min dzalik !!!
Begitulah manusia yang telah diserang penyakit Hubbud Dunya (Cinta Dunia), mula-mula hanya ikut menikmati, makin lama makin menjadi, pada akhirnya menjadi ideologi yang akan dibela sampai mati. Mereka hanya berorientasi kepada uang, peluang, dan senang-senang. Inilah sekelumit gaya hidup hedonisme (hanya mencari kesenangan duniawi saja) dan materialisme (hanya mementingkan materi semata) yang tengah melanda masyarakat kita dan orang-orang yang hidup di akhir abad ke-20 ini. Maka bila hal ini tidak disadari dan diwaspadai akan menjerumuskan masyarakat kepada masyarakat yang Dehumanis, Apatis dan Hedonis.
Manusia seperti itulah yang diejek oleh Allah SWT dalam Firmannya :
“Dan kalau Kami kehendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, maka diulurkan juga lidahnya. Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. (QS. Al-A’raaf :176)
Mereka menganggap kemanusiaan adalah suatu komoditi yang tak diperlukan lagi. Mereka berteriak-teriak : “Jangan pikirkan hari esok, hidup cuma untuk hari ini, jangan perdulikan orang lain, yang penting perkuat diri. Jadikan dirimu populer meskipun dirimu bodoh dan biarkan mereka berduyun-duyun bersimpuh dalam tali sepatu kekayaan dan kekuasaanmu”. Itulah gaya hidup para wajah dunia materialistik.
Mereka mengingkari hari akhirat, sebagaimana disinyalir dalam Al-qur’an :
“Dan mereka berkata : “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup tidak ada yang membinasakan kita selain waktu”, dan mereka sekali-kali tidak tidak mengetahui pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS : 45:24)
Seorang Muslim sepatutnya menjadi manusia-manusia yang diperhitungkan, baik kualitasnya, profesionalismenya, maupun ketajaman akal-budi dan rohaninya, bukan yang diperhitungkan karena seringnya membuat kerusakan dan keonaran di mana-mana.
Kekayaan dan kekuasaan penting bagi Seorang Muslim, lebih dikarenakan untuk membiayai dan mendukung Jihad Fi Sabilllah (Berjuang di Jalan Allah) dan menjadi senjata untuk menundukkan kejahiliyiahan, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan tetapi lebih untuk kepentingan dan Kemaslahatan seluruh ummat di manapun mereka berada. Karena antara seorang muslim dengan muslim yang lain adalah bersudara. Seorang muslim harus tampil sebagai sosok figur yang terbaik dalam segala sudut kehidupan (Kuntum Khairu Ummah).
Akhirul Qalam..., penulis berwasiat kepada diri sendiri dan para pembaca Semoga kita semua terhindar dan dijauhkan dari hal-hal serta sifat-sifat tersebut di atas, begitu juga keturunan kita, sanak dan saudara serta kerabat dekat kita. Amiieeen...
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, Wassalamulaikum Wr. Wb.
(Oleh : Muhammad Shobrie Hardhi Wibawa, SE.)

TAHUKAH ANDA Para Wanita : "Carilah Suami yang BUAYA !!!"
Binatang Buaya, selama ini telah menjadi suatu sebutan (sebut: Ameliorasi) yang mengindikasikan : Kebuasan, Ketidak-berperi- kemanusiaan, Ketidak-setiaan, dan banyak lagi sebutan-sebutan lainnya yang berkonotasi NEGATIF.
Tapi Tahukah Anda...? Bahwasannya sebutan : "Lelaki BUAYA" untuk Para Lelaki yang suka bergonta-ganti Pasangan Wanita (biasa disebut : "Mata Keranjang"), sebenarnya merupakan "KESALAH KAPRAHAN YANG SANGAT FATAL".
Binatang BUAYA oleh Para Pakar Ilmu Binatang (Zoolog, ilmunya disebut Zology) merupakan Binatang "YANG PALING SETIA" diantara Para Binatang yang ada...
Mengapa disebut "Paling Setia" ? Karena Seekor Buaya Jantan hanya akan kawin / bersenggama dengan 1 Ekor Buaya Betina Pasangannya saja, tidak mau bergonta-ganti pasangan... walupun buaya-buaya betina lainnya banyak. Kecuali apabila dia tidak temukan buaya betina pasangannya (alias sudah mati). CAMKAN ITU...
Sangat LOGIS sekali makanya pada SUKU ASLI JAKARTA (yg sering disebut Suku Betawi), apabila ada RESEPSI PERNIKAHAN maka Hampir SELALU diminta PIHAK PENGANTIN PRIAnya untuk membawakan "ROTI BUAYA"... Hal ini tentu saja BUKAN DIMAKSUDKAN si Pengantin Pria nantinya berperilaku seperti : "Kata BUAYA" yang selama ini "ORANG SEBUT/KATAKAN" tentang arti kata "Buaya" yang "SALAH KAPRAH" tersebut. Namun lebih dimaksudkan bahwa "Supaya si Pria tersebut nantinya BERPERILAKU SETIA seperti Perilaku BUAYA dalam Berpasangan Hidupnya..."
Itulah sebabnya saya katakan di sini :
"Carilah Laki-Laki yang BERSIFAT BUAYA untuk PENDAMPING HIDUP Anda, Wahai Para Wanita...yang menginginkan PASANGAN YANG SETIA !!!"
SUDAH FAHAM SEKARANG...???